Jika telapak tanganmu basah, jantungmu berdetak kencang,
itu bukan cinta, itu hanyalah suka
Jika tanganmu tidak dapat berhenti memegang dia,
itu bukan cinta, itu adalah nafsu
Jika kamu menggunakan dia karena kamu tahu kalau dia akan slalu didekatmu,
itu bukan cinta, kamu hanya merasa kesepian
Jika kamu menuruti perkatannya hanya karena kamu tidak mau melukai dia,
itu bukan cinta, itu hanyalah untuk memuaskannya
Jika kamu memberikan apapun yang kamu suka untuknya,
itu bukan cinta, itu murah hati
Jika kamu bangga dengan dia dan slalu menunjukkannya kepada orang lain,
itu bukan cinta, itu hanya keberuntungan
Jika kamu mengatakan kepadanya bahwa dia adalah satu-satunya orang yang ada di pikiranmu,
itu bukan cinta, itu haya dibuat-buat
Kamu mencintai dia ketika kamu mau memaafkan segala kesalahannya, karena itu adalah salah satu kepribadiannya ;
ketika dia sedih, kamu akan menangis ;
kamu akan senang, jika dia senang ;
ketika kamu menangis diatas kesedihannya, walaupun dia kuat untuk mengahadapi persoalannya ;
ketika kamu mau merelakan cintamu, hidupmu, bahkan kematianmu ;
ketika kamu menyukai orang lain, tetapi kamu tetap setia dengan dia ;
itu adalah CINTA
Wednesday, February 10, 2010
Tuesday, January 19, 2010
Sunday, January 17, 2010
Leona Lewis - I See You
I see you
I see you
Walking through a dream
I see you
My light in darkness breathing hope of new life
Now I live through you and you through me
Enchanting
I pray in my heart that this dream never ends
I see me through your eyes
Living through life flying high
Your life shines the way into paradise
So I offer my life as a sacrifice
I live through your love
You teach me how to see
All that’s beautiful
My senses touch your word I never pictured
Now I give my hope to you
I surrender
I pray in my heart that this world never ends
I see me through your eyes
Living through life flying high
Your love shines the way into paradise
So I offer my life
I offer my love, for you
When my heart was never open
(and my spirit never free)
To the world that you have shown me
But my eyes could not division
All the colours of love and of life ever more
Evermore
(I see me through your eyes)
I see me through your eyes
(Living through life flying high)
Flying high
Your love shines the way into paradise
So I offer my life as a sacrifice
And live through your love
And live through your life
I see you
I see you
I see you
Walking through a dream
I see you
My light in darkness breathing hope of new life
Now I live through you and you through me
Enchanting
I pray in my heart that this dream never ends
I see me through your eyes
Living through life flying high
Your life shines the way into paradise
So I offer my life as a sacrifice
I live through your love
You teach me how to see
All that’s beautiful
My senses touch your word I never pictured
Now I give my hope to you
I surrender
I pray in my heart that this world never ends
I see me through your eyes
Living through life flying high
Your love shines the way into paradise
So I offer my life
I offer my love, for you
When my heart was never open
(and my spirit never free)
To the world that you have shown me
But my eyes could not division
All the colours of love and of life ever more
Evermore
(I see me through your eyes)
I see me through your eyes
(Living through life flying high)
Flying high
Your love shines the way into paradise
So I offer my life as a sacrifice
And live through your love
And live through your life
I see you
I see you
Saturday, January 16, 2010
Memilih Jurusan di PTN
”Duhh, lulus SMA pengin lanjutin ke mana ya?” Sepertinya kata-kata itu deh yang sering diucapkan oleh siswa atau siswi kelas III SMA yang sudah mendekati UN dan kelulusan. Banyak siswa atau siswi yang masih bingung untuk memilih jurusan apa yang cocok dan bagus dari setiap universitas yang bagus.
Siswa yang telah lulus dari SMA, SMEA, SMK, dan jenjang sederajat akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri atau PTN maupun perguruan tinggi negeri swasta atau PTS. Pada setiap jurusan memiliki materi dan sifat pembelajaran yang berbeda-beda.
Memilih jurusan kuliah bukan urusan yang mudah dan bukan persoalan yang sepele. Memilih secara tergesa-gesa tanpa memperhitungkan segala aspek akan berakibat fatal, mulai dari kesadaran yang terlambat bahwa jurusan yang diambil tidak sesuai dengan kepribadian sampai didrop out (DO).
So, para MuDAers harus sejak dini mempertimbangkan untuk memilih jurusan yang diinginkan. Kalau sampai salah jurusan, akan menjadi bencana untuk masa depan para MuDAers loh!!
Menyesuaikan cita-cita, minat dan bakat.
Jika MuDAers telah memiliki cita-cita tertentu, lihat jurusan apa yang dapet membawa MuDAers menuju profesi atau pekerjaan yang diinginkan tersebut. Tapi kalau ternyata MuDAers tidak memiliki bakat yang diinginkan, lebih baik jangan memaksakan diri ya!
Informasi yang sempurna.
Carilah informasi yang banyak sebagai pertimbangan MuDAers untuk memilih jurusan. Banyak sumber untuk menghasilkan informasi, yaitu orang tua, saudara, guru, teman, bimbel, tetangga, konsultan pendidikan, internet, dan lain-lain.
Lokasi dan biaya.
Bagi kalian yang hidup dalam ekonomi menengah-atas tidak akan menjadi masalah untuk biaya. Sedangkan bagi orang yang hidup dalam ekonomi menengah bawah, lokasi maupun biaya akan menjadi masalah yang sangat diperhitungkan. Jika dana terbatas, maka lokasi kuliah yang dekat dengan tempat tinggal atau lokasi luar kota yang memiliki biaya hidup yang rendah. Pilih juga tempat kuliah yang biaya pendidikannya tidak terlalu tinggi. Kalau dana yang masih ada belum mencukupi, carilah beasiswa, freelance, atau keringanan untuk mencukupi kebutuhan dana.
Daya tampung jurusan atau peluang diterima.
Perhatikan daya tampung suatu jurusan di PTN atau PTS favorit. Umumnya memiliki kuantitas yang terbatas dan diperebutkan oleh banyak orang. Jangan membebani diri kamu dengan target untuk berkuliah di tempat tertentu dengan jurusan tertentu yang favorit karena kamu bisa stres andai tidak terpenuhi. Ukur kemampuan kamu untuk melihat sejauh mana peluang untuk menempati suatu jurusan di tempat favorit. Seleksi massal, seperti UMPTN, SPMB, dan lainnya, dapat menjegal masa depan studi kamu kalau tidak dipersiapkan dan diperhitungkan matang-matang. Jangan terlalu minder dengan hasil yang didapat. Kalau pada SPMB ada dua jurusan yang dapat dipilih, pilih satu jurusan atau lokasi lain yang sesuai atau sedikit di bawah kemampuan kamu.
Masa depan karier dan pekerjaan.
Lihat ke depan setelah kamu lulus nanti. Apakah jurusan yang kamu ambil nanti dapat mengantar kamu untuk mendapat pekerjaan dan karier yang baik? Sebab, saat ini recruitment perusahaan dalam mencari tenaga kerja tidak melihat seseorang dari latar belakang pendidikan saja, tetapi juga pengalaman. Namun, kalau kompetensi, keberanian, dan kemampuan kamu jauh dari orang-orang normal, jurusan apa pun tidak akan menjadi kendala dan sah-sah saja. Biarkanlah hati dan akal sehat kamu berbicara tanpa ada campur tangan dari orang lain. Konsultasikan dengan orang tua dan orang lain yang kamu percaya. Kuliah sangat menentukan masa depan kamu. So, para MuDAers selamat berjuang ya!
(Tim ”Kompas” MuDA SMAN 43 Jakarta: Hendra P, M Arief DA, Putri S, Annisa, Iin, dan Aisha R)
Siswa yang telah lulus dari SMA, SMEA, SMK, dan jenjang sederajat akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri atau PTN maupun perguruan tinggi negeri swasta atau PTS. Pada setiap jurusan memiliki materi dan sifat pembelajaran yang berbeda-beda.
Memilih jurusan kuliah bukan urusan yang mudah dan bukan persoalan yang sepele. Memilih secara tergesa-gesa tanpa memperhitungkan segala aspek akan berakibat fatal, mulai dari kesadaran yang terlambat bahwa jurusan yang diambil tidak sesuai dengan kepribadian sampai didrop out (DO).
So, para MuDAers harus sejak dini mempertimbangkan untuk memilih jurusan yang diinginkan. Kalau sampai salah jurusan, akan menjadi bencana untuk masa depan para MuDAers loh!!
Menyesuaikan cita-cita, minat dan bakat.
Jika MuDAers telah memiliki cita-cita tertentu, lihat jurusan apa yang dapet membawa MuDAers menuju profesi atau pekerjaan yang diinginkan tersebut. Tapi kalau ternyata MuDAers tidak memiliki bakat yang diinginkan, lebih baik jangan memaksakan diri ya!
Informasi yang sempurna.
Carilah informasi yang banyak sebagai pertimbangan MuDAers untuk memilih jurusan. Banyak sumber untuk menghasilkan informasi, yaitu orang tua, saudara, guru, teman, bimbel, tetangga, konsultan pendidikan, internet, dan lain-lain.
Lokasi dan biaya.
Bagi kalian yang hidup dalam ekonomi menengah-atas tidak akan menjadi masalah untuk biaya. Sedangkan bagi orang yang hidup dalam ekonomi menengah bawah, lokasi maupun biaya akan menjadi masalah yang sangat diperhitungkan. Jika dana terbatas, maka lokasi kuliah yang dekat dengan tempat tinggal atau lokasi luar kota yang memiliki biaya hidup yang rendah. Pilih juga tempat kuliah yang biaya pendidikannya tidak terlalu tinggi. Kalau dana yang masih ada belum mencukupi, carilah beasiswa, freelance, atau keringanan untuk mencukupi kebutuhan dana.
Daya tampung jurusan atau peluang diterima.
Perhatikan daya tampung suatu jurusan di PTN atau PTS favorit. Umumnya memiliki kuantitas yang terbatas dan diperebutkan oleh banyak orang. Jangan membebani diri kamu dengan target untuk berkuliah di tempat tertentu dengan jurusan tertentu yang favorit karena kamu bisa stres andai tidak terpenuhi. Ukur kemampuan kamu untuk melihat sejauh mana peluang untuk menempati suatu jurusan di tempat favorit. Seleksi massal, seperti UMPTN, SPMB, dan lainnya, dapat menjegal masa depan studi kamu kalau tidak dipersiapkan dan diperhitungkan matang-matang. Jangan terlalu minder dengan hasil yang didapat. Kalau pada SPMB ada dua jurusan yang dapat dipilih, pilih satu jurusan atau lokasi lain yang sesuai atau sedikit di bawah kemampuan kamu.
Masa depan karier dan pekerjaan.
Lihat ke depan setelah kamu lulus nanti. Apakah jurusan yang kamu ambil nanti dapat mengantar kamu untuk mendapat pekerjaan dan karier yang baik? Sebab, saat ini recruitment perusahaan dalam mencari tenaga kerja tidak melihat seseorang dari latar belakang pendidikan saja, tetapi juga pengalaman. Namun, kalau kompetensi, keberanian, dan kemampuan kamu jauh dari orang-orang normal, jurusan apa pun tidak akan menjadi kendala dan sah-sah saja. Biarkanlah hati dan akal sehat kamu berbicara tanpa ada campur tangan dari orang lain. Konsultasikan dengan orang tua dan orang lain yang kamu percaya. Kuliah sangat menentukan masa depan kamu. So, para MuDAers selamat berjuang ya!
(Tim ”Kompas” MuDA SMAN 43 Jakarta: Hendra P, M Arief DA, Putri S, Annisa, Iin, dan Aisha R)
Sunday, January 03, 2010
Tips Dan Trik Cara Belajar Yang Baik Untuk Ujian / Ulangan Pelajaran Sekolah Bagi Siswa SD, SMP, SMA Serta Mahasiswa
Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam pelajaran berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa pr / pekerjaan rumah. Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar waktu memiliki dampak yang tidak baik.
Berikut ini adalah tips dan trik yang dapat menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau ujian :
1. Belajar Kelompok
Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.
2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.
3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.
4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.
5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman. Selain itu
6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.
7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.
8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.
Semoga tips cara belajar yang benar ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua, amin.
Dikutip dari organisasi.org
Tuesday, December 15, 2009
Tips for Preparing Your Piano Exam
Whether you are a new piano player or a full-time professional, exams can be a strenuous and often daunting task. Each exam has its separate challenges. However, if you prepare for your exams correctly, it could mean the difference between passing and failing.
For this example, let us pretend that we are sitting for a Grade Six piano exam. Let the record denote that I have sat and passed a Grade Six exam. Although admittedly I did not pass it well - this was caused by a severe lack of preparation leading up to the exam. I did not put the time or effort into my preparation for this music exam. I can assure you from first hand experience that you need more than 15 minutes practice three to four times a week to effectively prepare for a Grade Six piano exam!
THREE MONTHS BEFORE THE EXAM
At this time you should be doing approximately one hour’s worth of practice a day, five days a week. In your selected pieces you should be able to at least press all of the right notes. This is the time to start developing your pieces from a series of notes to a piano masterpiece. Concentrate on things like expression, dynamics and tempo. Put some feelings and emotion into your pieces.
You should also profusely study all of your theory and scales. Too often scales and theory are neglected at this time and are only revised about a fortnight before the exam. This is a terrible mistake! Remember the more you study now, the more you will retain this information, thus having a better chance of recalling the required knowledge during your exam.
ONE MONTH BEFORE THE EXAM
It is time to up the anti a bit. You should be spending one and a half to two hours practicing a day, six days a week. This is the time to smooth out all of the minor flaws in your pieces of music. Practice things like getting that tricky triplet sounding fluent and making sure you hit the F sharp with your fourth finger rather than the fifth. These issues might seem minor, but it will help you immensely with your exam.
Practice without the sheet music in front of you and see how well you go. During your exam if you rely too heavily on your score, I can guarantee you will stuff up. Learn your music off by heart.
Also, make sure that your exam becomes your number one priority. Do not be distracted by other issues in your life. Do not become distracted by relationship, financial or other issues that might divert your attention from your exam. You will become stressed and worn out, and you will not perform at your potential.
ONE WEEK BEFORE YOUR EXAM
Now is the time to just practice, practice, practice! I would recommend doing between two to three hours per day by now. You should have all of the knowledge required for the exam. It is simply a matter of revising it for your exam.
Whilst we are working and studying hard, we have to remain relaxed. Put it into perspective; it is only an exam. There is no need to worry about it 24/7.
DAY BEFORE YOUR EXAM
Most people on the night before an exam practice for 5-6 hours, studying until some ungodly hour in the morning. This is a big no-no! At maximum you should only play through your pieces once. What I like to do is pretend I am actually sitting for the exam. So I would do my scales first, then my pieces in order, and then do some sight reading.
Don’t try to do any last minute revision for your exam. Chances are that you will only put unneeded pressure on yourself and more importantly you will only have a small chance to remember it for your exam. Do not get distracted by other things in your life. Your piano exam is tomorrow – everything else can wait another day.
Relax! It is essential that you get a good night’s sleep. I would recommend that you get 8 to 10 hours solid sleep if you can afford the luxury.
MORNING BEFORE YOUR EXAM
Do not do any work, whether it is piano related or not. Do something fun that doesn’t require a lot of brain power. Watch a movie. Kick a soccer ball. Do whatever that suits you.
Try to eat a healthy breakfast. However, if you suffer from butterflies in the stomach, which I suffer from immensely, don’t try to force anything down. It will only comes straight back up! (Trust me!)
I will say it again, RELAX! Try not to think about your exam. Don’t try to think about your theory, scales, pieces, fingering etc. etc. Don’t think about what you have and haven’t done for your exam. This is only going to get you all frazzled and this will seriously hinder your exam.
30 MINUTES BEFORE THE EXAM
By now you should be at the venue where your exam is being held. Do some ultra-light revision. Look through your music sheets and visualize yourself playing it as you read the notes. Play some ‘air-piano.’ Test yourself with a couple of theory questions.
Do not under any circumstances talk to other people about the exam. Do not ask each other theory questions. Do not discuss your pieces. Do not talk about previous exams or examiners. This is nothing more than an unwanted hindrance. Take a few deep breaths, relax and focus on your exam.
5 MINUTES BEFORE THE EXAM
Close the books for a moment. Take three deep breaths and focus. Think to yourself that this is just like any other piano practice session. Go into the exam with positive thoughts. Whether you have prepared yourself for the exam as I have discussed above or not, it does not matter now. All you can do now is concentrate on the upcoming task of your exam.
DURING THE EXAM
Two things will be happening to you about now. Firstly, you think you are doing well. Great! Ride on this wave of euphoria until the end of the exam. But you must not slack off! You still have a couple of pieces or a couple of scales or some theory to do. You must concentrate until the end of the exam. A lot can happen between now and then.
The second thing that could be happening to you during your piano exam is that you think you are performing badly. Forget about it! It doesn’t matter what has happened. You still have the rest of the exam to impress the examiner. A lot can change between now and the end of the exam.
Another point worth thinking about is just because you think that you have done a bad job, doesn’t mean that the examiner knows you’ve done a bad job. He/She will not pick up every single mistake you make. Just forget what has happened, clear your mind and start again with your next task. Think about what is going to happen, not what has just happened.
AFTER THE EXAM
Congratulations! You have completed your exam! You can now breathe a huge sigh of relief! It’s finally over!
Carefully analyse your exam. What did you do well? What do you do badly? What could you have done to improve? Make notes so you can use them as a reference for future exams.
Be careful not to be too confident with your exam. You might be disappointed when you see your results. Conversely, do not be too negative with your exam and think that you have done badly. More often than not you will get a nice surprise!
RECEIVING YOUR RESULTS
After waiting one to two weeks for your results to come back, you would be naturally excited, or at least inquisitive to see your results. Have you done well and/or better than you expected? Have you done worse than you have thought? Either way, read your examiner’s comments at least three times. See what they liked about your piano examination and what they didn’t. No matter how well you did, you can always improve! Next year’s exams are guaranteed to be harder than this year.
Take the assessor’s comments on board, but also take your own thoughts on board. Was your preparation leading up to the exam as good as it could have been? Nine times out of ten, if you have done badly you generally know why. Think about why you did badly and improve! Learn from your mistakes. Do not get depressed! It is not the end of the world. There is always next year.
I hope this article was helpful for your preparations for your exam. This is what I personally do when preparing for a piano exam. Obviously, if you have your own routine that works, by all means stick to it. However, if you do pick up one piece of advice from this article and apply it successfully, I will consider this article a success. Good Luck for your exams and most importantly, remember you can only do your best.
By Christopher Carlin
For this example, let us pretend that we are sitting for a Grade Six piano exam. Let the record denote that I have sat and passed a Grade Six exam. Although admittedly I did not pass it well - this was caused by a severe lack of preparation leading up to the exam. I did not put the time or effort into my preparation for this music exam. I can assure you from first hand experience that you need more than 15 minutes practice three to four times a week to effectively prepare for a Grade Six piano exam!
THREE MONTHS BEFORE THE EXAM
At this time you should be doing approximately one hour’s worth of practice a day, five days a week. In your selected pieces you should be able to at least press all of the right notes. This is the time to start developing your pieces from a series of notes to a piano masterpiece. Concentrate on things like expression, dynamics and tempo. Put some feelings and emotion into your pieces.
You should also profusely study all of your theory and scales. Too often scales and theory are neglected at this time and are only revised about a fortnight before the exam. This is a terrible mistake! Remember the more you study now, the more you will retain this information, thus having a better chance of recalling the required knowledge during your exam.
ONE MONTH BEFORE THE EXAM
It is time to up the anti a bit. You should be spending one and a half to two hours practicing a day, six days a week. This is the time to smooth out all of the minor flaws in your pieces of music. Practice things like getting that tricky triplet sounding fluent and making sure you hit the F sharp with your fourth finger rather than the fifth. These issues might seem minor, but it will help you immensely with your exam.
Practice without the sheet music in front of you and see how well you go. During your exam if you rely too heavily on your score, I can guarantee you will stuff up. Learn your music off by heart.
Also, make sure that your exam becomes your number one priority. Do not be distracted by other issues in your life. Do not become distracted by relationship, financial or other issues that might divert your attention from your exam. You will become stressed and worn out, and you will not perform at your potential.
ONE WEEK BEFORE YOUR EXAM
Now is the time to just practice, practice, practice! I would recommend doing between two to three hours per day by now. You should have all of the knowledge required for the exam. It is simply a matter of revising it for your exam.
Whilst we are working and studying hard, we have to remain relaxed. Put it into perspective; it is only an exam. There is no need to worry about it 24/7.
DAY BEFORE YOUR EXAM
Most people on the night before an exam practice for 5-6 hours, studying until some ungodly hour in the morning. This is a big no-no! At maximum you should only play through your pieces once. What I like to do is pretend I am actually sitting for the exam. So I would do my scales first, then my pieces in order, and then do some sight reading.
Don’t try to do any last minute revision for your exam. Chances are that you will only put unneeded pressure on yourself and more importantly you will only have a small chance to remember it for your exam. Do not get distracted by other things in your life. Your piano exam is tomorrow – everything else can wait another day.
Relax! It is essential that you get a good night’s sleep. I would recommend that you get 8 to 10 hours solid sleep if you can afford the luxury.
MORNING BEFORE YOUR EXAM
Do not do any work, whether it is piano related or not. Do something fun that doesn’t require a lot of brain power. Watch a movie. Kick a soccer ball. Do whatever that suits you.
Try to eat a healthy breakfast. However, if you suffer from butterflies in the stomach, which I suffer from immensely, don’t try to force anything down. It will only comes straight back up! (Trust me!)
I will say it again, RELAX! Try not to think about your exam. Don’t try to think about your theory, scales, pieces, fingering etc. etc. Don’t think about what you have and haven’t done for your exam. This is only going to get you all frazzled and this will seriously hinder your exam.
30 MINUTES BEFORE THE EXAM
By now you should be at the venue where your exam is being held. Do some ultra-light revision. Look through your music sheets and visualize yourself playing it as you read the notes. Play some ‘air-piano.’ Test yourself with a couple of theory questions.
Do not under any circumstances talk to other people about the exam. Do not ask each other theory questions. Do not discuss your pieces. Do not talk about previous exams or examiners. This is nothing more than an unwanted hindrance. Take a few deep breaths, relax and focus on your exam.
5 MINUTES BEFORE THE EXAM
Close the books for a moment. Take three deep breaths and focus. Think to yourself that this is just like any other piano practice session. Go into the exam with positive thoughts. Whether you have prepared yourself for the exam as I have discussed above or not, it does not matter now. All you can do now is concentrate on the upcoming task of your exam.
DURING THE EXAM
Two things will be happening to you about now. Firstly, you think you are doing well. Great! Ride on this wave of euphoria until the end of the exam. But you must not slack off! You still have a couple of pieces or a couple of scales or some theory to do. You must concentrate until the end of the exam. A lot can happen between now and then.
The second thing that could be happening to you during your piano exam is that you think you are performing badly. Forget about it! It doesn’t matter what has happened. You still have the rest of the exam to impress the examiner. A lot can change between now and the end of the exam.
Another point worth thinking about is just because you think that you have done a bad job, doesn’t mean that the examiner knows you’ve done a bad job. He/She will not pick up every single mistake you make. Just forget what has happened, clear your mind and start again with your next task. Think about what is going to happen, not what has just happened.
AFTER THE EXAM
Congratulations! You have completed your exam! You can now breathe a huge sigh of relief! It’s finally over!
Carefully analyse your exam. What did you do well? What do you do badly? What could you have done to improve? Make notes so you can use them as a reference for future exams.
Be careful not to be too confident with your exam. You might be disappointed when you see your results. Conversely, do not be too negative with your exam and think that you have done badly. More often than not you will get a nice surprise!
RECEIVING YOUR RESULTS
After waiting one to two weeks for your results to come back, you would be naturally excited, or at least inquisitive to see your results. Have you done well and/or better than you expected? Have you done worse than you have thought? Either way, read your examiner’s comments at least three times. See what they liked about your piano examination and what they didn’t. No matter how well you did, you can always improve! Next year’s exams are guaranteed to be harder than this year.
Take the assessor’s comments on board, but also take your own thoughts on board. Was your preparation leading up to the exam as good as it could have been? Nine times out of ten, if you have done badly you generally know why. Think about why you did badly and improve! Learn from your mistakes. Do not get depressed! It is not the end of the world. There is always next year.
I hope this article was helpful for your preparations for your exam. This is what I personally do when preparing for a piano exam. Obviously, if you have your own routine that works, by all means stick to it. However, if you do pick up one piece of advice from this article and apply it successfully, I will consider this article a success. Good Luck for your exams and most importantly, remember you can only do your best.
By Christopher Carlin
Benar atau Pintar
Kini, manusia Indonesia lebih suka dinilai pintar daripada dinilai benar. Pintar milik beberapa orang, sedangkan benar milik semua orang, karena pintar berdimensi pikir, sedangkan benar berdimensi nurani.
Berbagai penghargaan diberikan kepada orang-orang pintar, orang-orang benar salah lahir di dunia orang pintar. Sebenarnya pintar itu kultur, kerja mental. Sedangkan benar adalah natur, terbawa sejak lahir.
Dunia modern adalah dunia orang pintar. Siapa yang pintar akan benar. Kebenaran orang pintar adalah konstruksi pikiran. Semuanya akan benar jika bangunan pikirannya tersusun rapi, koheren-menyatu, sesuai hukum logika. Kebenaran orang pintar adalah kebenaran eksklusif dan isolatif karena hanya benar dalam bangunannya sendiri. Orang pintar hanya benar di lingkungan yang bangunan pikirannya sama atau mirip.
Apakah kebenaran itu?
Apa yang dinilai benar selalu mendatangkan perdebatan karena kebenaran selalu dilihat dari segi kepintaran. Benar dan tidak benar dinilai dari alam kesadaran, yakni pikiran. Sedangkan kebenaran atau benar adalah soal kehadiran, penghayatan, pengalaman, realitas obyektif. Manusia sejak zaman balita telah belajar mengenali apa yang benar dan tidak benar. Benar itu terasa, cocok, pas, gathuk, dengan penghayatan manusia itu sendiri.
Benar itu amat nyata, hadir, terindra. Semua orang mampu melihat kebenaran itu. Kebenaran yang diperdebatkan senantiasa ada pikiran yang masuk ke dalamnya. Kanak-kanak adalah manusia paling peka dalam mengendus hadirnya kebenaran. Itu sebabnya, mereka yang kanak-kanak dijamin akan masuk surga.
Kekacauan antarmanusia dimulai dengan kata-kata, alat pikirannya. Kosakata kebenaran itu terbatas dan universal, yakni ah, o, ih, hu, hm. Ungkapan ah, oh, hm adalah tanda, yang dilihat dan didengarnya benar. Sedangkan ungkapan hu dan hm tanda yang dilihat, didengar, dan dialami tidak benar. Itulah bahasa kanak-kanak, bahasa penghayatan, bahasa kebenaran. Bahasa spontan, bahasa spiritual. Bahasa tanpa pikiran. Bahasa hati nurani.
Kini kian banyak orang pintar di televisi, radio, penerbitan, mimbar, dan panggung. Mereka pandai bersilat lidah. Mereka setiap hari memproduksi kosakata baru. Udara dipenuhi kata-kata. Manusia percaya pada kata-kata. Manusia menggantungkan diri dari kata-kata. Perdebatan kian merobek. Kekacauan menggila. Semua terjadi karena manusia mendewakan kata-kata, alat pikiran manusia pintar itu.
Manusia kian buta melihat kebenaran. Kebenaran tidak pernah dihayati, dialami. Dirasakan, dimasukkan dalam kata hati. Kebenaran hanya dilihat dalam kepintaran berkata-kata. Kebenaran yang nyata hadir secara konkret di depan mata itu pun dapat diingkari oleh kepintaran. Dunia ini dapat dijungkir balik oleh kepintaran. Yang benar itu salah, yang salah itu benar. Di mana nuranimu manusia? Di mana kanak-kanakmu?
Manusia yang benar kini dinilai sebagai manusia bodoh. Lebih baik menjadi orang benar meski tidak pintar. Tentu lebih baik lagi jika orang benar itu juga orang pintar, daripada menjadi orang pintar tetapi tidak benar. Dan kenyataannya di Indonesia ini kian banyak orang tidak benar sekaligus tidak pintar. Itulah tragedi bangsa ini, banyak orang pintar tidak benar dan banyak orang tidak benar yang tidak pintar.
Buta kebenaran
Kepekaan terhadap hadirnya kebenaran itulah yang kini mulai menipis di Indonesia. Mudah-mudahan bangsa ini belum buta kebenaran. Buta kepintaran masih lebih baik daripada buta kebenaran. Tanpa kepintaran, manusia masih dapat hidup. Tanpa kebenaran, manusia akan musnah. Benar lebih bernilai daripada pintar. Pintar menuntun manusia menuju kemakmuran duniawi. Benar menuntun manusia menuju keselamatan. Kombinasi pintar dan benar menuju masyarakat yang adil dan makmur. Apa gunanya makmur tanpa keadilan dan kebenaran?
Tanpa kebenaran, sebuah bangsa akan musnah. Bukan benar dalam arti ideal-rasional, tetapi benar dalam arti kualitas kebenaran itu sendiri, yang obyektif terwujud dan dirasakan, dialami, dihayati secara sama oleh semua orang. Yang benar itu tidak menipu jika dirasakan cocok dan gathuk dengan nurani manusia di mana pun dan kapan pun. Yang benar itu hadir secara nyata, gamblang, dan terang. Bagaimana pun orang mau memutarbalikkan yang benar secara rasional. Yang benar itu tetap akan benar.
Namun kini orang tak malu-malu lagi untuk memutarbalikkan kebenaran dengan nilai lidah kepintarannya. Tidak benar itu wajar-wajar saja di Indonesia. Si terhukum tak malu mengaku telah menyogok jaksa yang tidak memberi imbalan jasa atas sogokannya. Korupsi itu bukan lagi tidak benar. Korupsi itu kewajaran di Indonesia. Bahkan korupsi itu semacam hak istimewa karena tidak setiap orang diberi kesempatan korup. Orang bisa bangga di depan hakim, di depan umum, dirinya seorang koruptor kakap, bukan koruptor teri. Koruptor kakap lebih bangga karena menunjukkan dirinya lebih pintar mengorup uang negara. Koruptor teri itu bodoh. Sudah korupnya recehan, ketahuan lagi. Sedang saya ini koruptor mahakakap selama puluhan tahun dan baru ketahuan sekarang. Kenyataan ini menunjukkan betapa lihainya memutar orang agar korupsi saya tak ketahuan.
Tangisan pujangga Jawa, Ronggowarsito, masih berlangsung hingga kini. Ia mengatakan, dalam Zaman Edan negara memiliki menteri-menterinya yang cerdik pandai, namun mereka tak mampu menepis pejabat negara yang sudah edan, tidak ingat dan waspada terhadap kebenaran. Berbahagialah, di zaman edan ini, manusia yang peka, selalu ingat dan waspada, terhadap Yang Benar.
Berbagai penghargaan diberikan kepada orang-orang pintar, orang-orang benar salah lahir di dunia orang pintar. Sebenarnya pintar itu kultur, kerja mental. Sedangkan benar adalah natur, terbawa sejak lahir.
Dunia modern adalah dunia orang pintar. Siapa yang pintar akan benar. Kebenaran orang pintar adalah konstruksi pikiran. Semuanya akan benar jika bangunan pikirannya tersusun rapi, koheren-menyatu, sesuai hukum logika. Kebenaran orang pintar adalah kebenaran eksklusif dan isolatif karena hanya benar dalam bangunannya sendiri. Orang pintar hanya benar di lingkungan yang bangunan pikirannya sama atau mirip.
Apakah kebenaran itu?
Apa yang dinilai benar selalu mendatangkan perdebatan karena kebenaran selalu dilihat dari segi kepintaran. Benar dan tidak benar dinilai dari alam kesadaran, yakni pikiran. Sedangkan kebenaran atau benar adalah soal kehadiran, penghayatan, pengalaman, realitas obyektif. Manusia sejak zaman balita telah belajar mengenali apa yang benar dan tidak benar. Benar itu terasa, cocok, pas, gathuk, dengan penghayatan manusia itu sendiri.
Benar itu amat nyata, hadir, terindra. Semua orang mampu melihat kebenaran itu. Kebenaran yang diperdebatkan senantiasa ada pikiran yang masuk ke dalamnya. Kanak-kanak adalah manusia paling peka dalam mengendus hadirnya kebenaran. Itu sebabnya, mereka yang kanak-kanak dijamin akan masuk surga.
Kekacauan antarmanusia dimulai dengan kata-kata, alat pikirannya. Kosakata kebenaran itu terbatas dan universal, yakni ah, o, ih, hu, hm. Ungkapan ah, oh, hm adalah tanda, yang dilihat dan didengarnya benar. Sedangkan ungkapan hu dan hm tanda yang dilihat, didengar, dan dialami tidak benar. Itulah bahasa kanak-kanak, bahasa penghayatan, bahasa kebenaran. Bahasa spontan, bahasa spiritual. Bahasa tanpa pikiran. Bahasa hati nurani.
Kini kian banyak orang pintar di televisi, radio, penerbitan, mimbar, dan panggung. Mereka pandai bersilat lidah. Mereka setiap hari memproduksi kosakata baru. Udara dipenuhi kata-kata. Manusia percaya pada kata-kata. Manusia menggantungkan diri dari kata-kata. Perdebatan kian merobek. Kekacauan menggila. Semua terjadi karena manusia mendewakan kata-kata, alat pikiran manusia pintar itu.
Manusia kian buta melihat kebenaran. Kebenaran tidak pernah dihayati, dialami. Dirasakan, dimasukkan dalam kata hati. Kebenaran hanya dilihat dalam kepintaran berkata-kata. Kebenaran yang nyata hadir secara konkret di depan mata itu pun dapat diingkari oleh kepintaran. Dunia ini dapat dijungkir balik oleh kepintaran. Yang benar itu salah, yang salah itu benar. Di mana nuranimu manusia? Di mana kanak-kanakmu?
Manusia yang benar kini dinilai sebagai manusia bodoh. Lebih baik menjadi orang benar meski tidak pintar. Tentu lebih baik lagi jika orang benar itu juga orang pintar, daripada menjadi orang pintar tetapi tidak benar. Dan kenyataannya di Indonesia ini kian banyak orang tidak benar sekaligus tidak pintar. Itulah tragedi bangsa ini, banyak orang pintar tidak benar dan banyak orang tidak benar yang tidak pintar.
Buta kebenaran
Kepekaan terhadap hadirnya kebenaran itulah yang kini mulai menipis di Indonesia. Mudah-mudahan bangsa ini belum buta kebenaran. Buta kepintaran masih lebih baik daripada buta kebenaran. Tanpa kepintaran, manusia masih dapat hidup. Tanpa kebenaran, manusia akan musnah. Benar lebih bernilai daripada pintar. Pintar menuntun manusia menuju kemakmuran duniawi. Benar menuntun manusia menuju keselamatan. Kombinasi pintar dan benar menuju masyarakat yang adil dan makmur. Apa gunanya makmur tanpa keadilan dan kebenaran?
Tanpa kebenaran, sebuah bangsa akan musnah. Bukan benar dalam arti ideal-rasional, tetapi benar dalam arti kualitas kebenaran itu sendiri, yang obyektif terwujud dan dirasakan, dialami, dihayati secara sama oleh semua orang. Yang benar itu tidak menipu jika dirasakan cocok dan gathuk dengan nurani manusia di mana pun dan kapan pun. Yang benar itu hadir secara nyata, gamblang, dan terang. Bagaimana pun orang mau memutarbalikkan yang benar secara rasional. Yang benar itu tetap akan benar.
Namun kini orang tak malu-malu lagi untuk memutarbalikkan kebenaran dengan nilai lidah kepintarannya. Tidak benar itu wajar-wajar saja di Indonesia. Si terhukum tak malu mengaku telah menyogok jaksa yang tidak memberi imbalan jasa atas sogokannya. Korupsi itu bukan lagi tidak benar. Korupsi itu kewajaran di Indonesia. Bahkan korupsi itu semacam hak istimewa karena tidak setiap orang diberi kesempatan korup. Orang bisa bangga di depan hakim, di depan umum, dirinya seorang koruptor kakap, bukan koruptor teri. Koruptor kakap lebih bangga karena menunjukkan dirinya lebih pintar mengorup uang negara. Koruptor teri itu bodoh. Sudah korupnya recehan, ketahuan lagi. Sedang saya ini koruptor mahakakap selama puluhan tahun dan baru ketahuan sekarang. Kenyataan ini menunjukkan betapa lihainya memutar orang agar korupsi saya tak ketahuan.
Tangisan pujangga Jawa, Ronggowarsito, masih berlangsung hingga kini. Ia mengatakan, dalam Zaman Edan negara memiliki menteri-menterinya yang cerdik pandai, namun mereka tak mampu menepis pejabat negara yang sudah edan, tidak ingat dan waspada terhadap kebenaran. Berbahagialah, di zaman edan ini, manusia yang peka, selalu ingat dan waspada, terhadap Yang Benar.
Oleh Jakob Sumardjo Esais
Kompas, 15 Juli 2006
Kompas, 15 Juli 2006
Krilangkun: Kritis, Langkah, dan Tekun
Bab 12 : Penutup
Krilangkun
Apa yang kita pelajari dari uraian-uraian di atas? Kita melihat bahwa ketika sesuatu berada pada kondisi kritis, maka alam semesta (termasuk diri kita, tetangga, dan lingkungan kita) telah didesain untuk mengatur diri mendukung kita (mestakung) agar keadaan kritis ini dapat terlewati.
Ada 3 hal yang dapat merangsang terjadinya mestakung. Ketiga hal ini saya namakan KRILANGKUN, singkatan dari KRItis, LANGkah dan TeKUN.
Siapa pun kita dan apa pun jabatan kita: pengusaha, guru, pedagang, pilot, dokter, sekretaris, karyawan, direktur, pejabat, hakim, bahkan supir dapat berubah dari biasa menjadi luar biasa dari good menjadi great. Caranya, lakukan Krilangkun agar terjadi mestakung.
KRILANGKUN 2: LANGKAH
KRILANGKUN 3: TEKUN
Krilangkun
“Sekadar mengetahui tidak cukup, kita harus meninginkannya.
Sekadar berkeinginan tidaklah cukup, kita harus bertindak.”
— Johann von Goethe, seniman serbabisa Jerman.
Sekadar berkeinginan tidaklah cukup, kita harus bertindak.”
— Johann von Goethe, seniman serbabisa Jerman.
Apa yang kita pelajari dari uraian-uraian di atas? Kita melihat bahwa ketika sesuatu berada pada kondisi kritis, maka alam semesta (termasuk diri kita, tetangga, dan lingkungan kita) telah didesain untuk mengatur diri mendukung kita (mestakung) agar keadaan kritis ini dapat terlewati.
Ada 3 hal yang dapat merangsang terjadinya mestakung. Ketiga hal ini saya namakan KRILANGKUN, singkatan dari KRItis, LANGkah dan TeKUN.
Siapa pun kita dan apa pun jabatan kita: pengusaha, guru, pedagang, pilot, dokter, sekretaris, karyawan, direktur, pejabat, hakim, bahkan supir dapat berubah dari biasa menjadi luar biasa dari good menjadi great. Caranya, lakukan Krilangkun agar terjadi mestakung.
KRILANGKUN 1: KRITIS
Untuk merangsang terjadinya mestakung, yang pertama kita harus lakukan adalah menempatkan diri kita pada kondisi kritis. Menempatkan diri pada kondisi kritis dapat dilakukan dengan menentukan sasaran yang jelas. Sasaran harus setinggi-tingginya dan beri waktu yang cukup untuk mencapai sasaran itu.
Misal: seorang calon dokter menetapkan target untuk menjadi dokter spesialis kanker yang terbaik di dunia 10 tahun dari sekarang. Atau seorang guru ingin menjadi guru yang mampu mengajar secara mudah, asyik dan menyenangkan dalam 10 tahun mendatang. Atau direktur perusahaan menargetkan penghasilan perusahaan naik 10 kali lipat dalam waktu dua tahun. Atau ingin mendapatkan suami yang baik.
Pada waktu berkunjung ke Halmahera Utara untuk memberikan orasi ilmiah di sebuah politeknik di sana, saya bertemu dengan Bupati Halmahera Utara, Hein Namotemo. Usai memberikan ceramah tentang Mestakung, Pak Hein langsung menangkap ide ini dan langsung menentukan sasaran: Halmahera Utara Go International tahun 2010! Pak Hein menempatkan diri pada kondisi kritis. Saat itulah mestakung terjadi. Semua jajaran staf Bupati siap mendukung. Pak Timisela, Kepala Dinas Pendidikan, segera membuat strategi bagaimana menyambut Halut 2010 ini. Untuk menggenjot prestasi, Pak Timisela menetapkan minimal nilai UAN untuk anak-anak di Halut adalah 7,5. Wow... suatu langkah berani! Suatu penempatan diri pada kondisi kritis. Inilah yang kita harus lakukan kalau ingin melihat mestakung bekerja melakukan perubahan-perubahan.
Ketika menyusun edisi kedua buku ini, saya membaca satu artikel bahwa Menko Kesra menetapkan nilai rata-rata minimal untuk tiga pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia dinaikkan dari 4,25 menjadi 5,00. Ini suatu kondisi kritis. Kita akan melihat bagaimana mestakung terjadi di sekolah-sekolah. Tiap sekolah akan berusaha mencapai nilai ini. Jika kebijakan ini dipertahankan terus dan dilaksanakan secara konsisten, maka kondisi kritis ini akan terlewati. Setelah ini terlewati, kita bias menciptakan kondisi kritis lainnya.
Pada saat saya memberikan seminar mestakung dalam Olimpiade Sains antar pesantren-pesantren di seluruh Indonesia, ada seorang peserta berkata, “Pak, saya ingin jadi Menteri Kesehatan... Saya akan berjuang untuk mencapai itu.” Wooow sungguh luar biasa.
Pada seminar lainnya di Universitas Indonesia, beberapa orang mengungkapkan target-target pribadi untuk menjadi menteri, anggota DPR, bahkan ada yang mempunyai target jadi presiden. Luar biasa.... Kalau saja orang-orang Indonesia mempunyai target-target yang tinggi dan berusaha keras untuk mencapai itu, maka dalam 10 tahun mendatang, Indonesia akan menjadi negara yang luar biasa.
Untuk merangsang terjadinya mestakung, yang pertama kita harus lakukan adalah menempatkan diri kita pada kondisi kritis. Menempatkan diri pada kondisi kritis dapat dilakukan dengan menentukan sasaran yang jelas. Sasaran harus setinggi-tingginya dan beri waktu yang cukup untuk mencapai sasaran itu.
Misal: seorang calon dokter menetapkan target untuk menjadi dokter spesialis kanker yang terbaik di dunia 10 tahun dari sekarang. Atau seorang guru ingin menjadi guru yang mampu mengajar secara mudah, asyik dan menyenangkan dalam 10 tahun mendatang. Atau direktur perusahaan menargetkan penghasilan perusahaan naik 10 kali lipat dalam waktu dua tahun. Atau ingin mendapatkan suami yang baik.
Pada waktu berkunjung ke Halmahera Utara untuk memberikan orasi ilmiah di sebuah politeknik di sana, saya bertemu dengan Bupati Halmahera Utara, Hein Namotemo. Usai memberikan ceramah tentang Mestakung, Pak Hein langsung menangkap ide ini dan langsung menentukan sasaran: Halmahera Utara Go International tahun 2010! Pak Hein menempatkan diri pada kondisi kritis. Saat itulah mestakung terjadi. Semua jajaran staf Bupati siap mendukung. Pak Timisela, Kepala Dinas Pendidikan, segera membuat strategi bagaimana menyambut Halut 2010 ini. Untuk menggenjot prestasi, Pak Timisela menetapkan minimal nilai UAN untuk anak-anak di Halut adalah 7,5. Wow... suatu langkah berani! Suatu penempatan diri pada kondisi kritis. Inilah yang kita harus lakukan kalau ingin melihat mestakung bekerja melakukan perubahan-perubahan.
Ketika menyusun edisi kedua buku ini, saya membaca satu artikel bahwa Menko Kesra menetapkan nilai rata-rata minimal untuk tiga pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia dinaikkan dari 4,25 menjadi 5,00. Ini suatu kondisi kritis. Kita akan melihat bagaimana mestakung terjadi di sekolah-sekolah. Tiap sekolah akan berusaha mencapai nilai ini. Jika kebijakan ini dipertahankan terus dan dilaksanakan secara konsisten, maka kondisi kritis ini akan terlewati. Setelah ini terlewati, kita bias menciptakan kondisi kritis lainnya.
Pada saat saya memberikan seminar mestakung dalam Olimpiade Sains antar pesantren-pesantren di seluruh Indonesia, ada seorang peserta berkata, “Pak, saya ingin jadi Menteri Kesehatan... Saya akan berjuang untuk mencapai itu.” Wooow sungguh luar biasa.
Pada seminar lainnya di Universitas Indonesia, beberapa orang mengungkapkan target-target pribadi untuk menjadi menteri, anggota DPR, bahkan ada yang mempunyai target jadi presiden. Luar biasa.... Kalau saja orang-orang Indonesia mempunyai target-target yang tinggi dan berusaha keras untuk mencapai itu, maka dalam 10 tahun mendatang, Indonesia akan menjadi negara yang luar biasa.
“Ciptakanlah kondisi-kondisi kritis.
Anda akan melihat bagaimana mestakung membantu anda melewati kondisi-kondisi kritis ini”
Anda akan melihat bagaimana mestakung membantu anda melewati kondisi-kondisi kritis ini”
KRILANGKUN 2: LANGKAH
Setelah menempatkan diri pada kondisi kritis, kita harus melangkah. Untuk mendaki gunung tinggi kita perlu melangkah walaupun kecil. Melangkahlah walaupun langkah itu kecil. Untuk mendaki gunung tinggi kita perlu melangkah walaupun kecil. Melangkah bias dilakukan dengan membuat strategi, men-sharingkan ide pada sebanyak mungkin orang, bergerak menuju sasaran ataupun mengajak teman untuk bersama-sama melewati kondisi kritis ini.
Mao Ze Dong di tahun 1934 menetapkan sasaran untuk melakukan long march sepanjang 9000 km dengan puluhan ribu anak buahnya. Beliau melangkah dan melangkah. Melintasi gunung, lembah, meniti jalan setapak dengan menggunakan obor di waktu malam. Serangan tentara Chiang Kai Sek penyakit, hujan, badai pasir, badai angin, dan berbagai rintangan harus dihadapi. Namun, dengan tekad teguh, akhirnya setelah setahun sekitar 8000 orang tiba dengan selamat di akhir perjalanan yang sangat fantastis dan tampak tidak mungkin ini.
Tahun 1984 saat saya masih mahasiswa jurusan Fisika di FMIPA UI, saya merasa terpanggil untuk mengembangkan pendidikan fisika yang asyik, mudah, dan menyenangkan di Indonesia. Namun, saya merasa ilmu yang saya peroleh dari S1 ini sangat kurang. Saya berkeinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Sayang, waktu itu saya tidak ada biaya sama sekali. Orang tua saya tidak akan mampu membiayai saya. Ketika baru di tingkat I dan tingkat II saja, saya hampir keluar dari UI jika tidak mendapat beasiswa supersemar, karena kami tidak mampu membayar uang kuliah.
Tekad ke luar negeri ini begitu kuat. Saya harus melangkah. Kemudian saya memberi les privat. Uang les privat ini saya kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membuat.... passport. Ya, passport. Banyak orang menganggap saya aneh, ke luar negeri belum ada kepastiannya, kok sudah membuat passport?“ Tetapi itulah.... kita harus berani melangkah. Ternyata tahun berikutnya, mestakung terjadi. Fisikawan Amerika Serikat datang ke Indonesia untuk meng-interview mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan salah satu mahasiswa Indonesia yang lulus interview adalah saya. Saya pun mendapat beasiswa di Department of Physics The College of William and Mary Virginia.
Rudy, mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat mempunyai resep sukses yang unik. Dia tidak pernah menunda pekerjaan. Ketika dia mendapat tugas dari dosennya selama seminggu atau sebulan, dia menyelesaikan tugas itu di hari pertama. Ini berbeda sekali dengan kebiasaan anak-anak muda yang sering menyelesaikan pekerjaan di menit-menit terakhir (the last minutes). Menurut Rudy, kalau dia bisa menyelesaikan tugas lebih awal, dia mempunyai waktu lebih untuk berpikir lebih banyak. Hidup menjadi berkurang stresnya. Kebiasaan ini dilakukan Rudy hingga dia bekerja. Dan hasilnya, Rudy selalu mendapat pujian dari atasannya atas segala pekerjaan yang begitu rapi. Sekarang dia sukses sebagai pengusaha. Kesuksesan Rudy didapatkan karena ia berani melangkah dan tidak pernah menunda-nunda.
Tahun 2005 DKI menjadi tuan rumah Olimpiade Sains Nasional (OSN). Dikmenti (Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi) dan Dikdas (Dinas Pendidikan dasar) provinsi DKI Jakarta menargetkan menjadi juara OSN 2005 ini. Mereka melangkah! Mereka menyeleksi anak-anak berbakat. Men-training-nya secara intensif, mulai Januari hingga September 2005. Mestakung terjadi! Semua bekerja bersama-sama untuk satu tujuan. Setiap saat, Kepala Dinas Pendidikan SMA, Bp. H. Margani dan Kepala Dinas Pendidikan SD/SLTP, Ibu Dr. Sylviana Murni memeriksa kemajuan dari training intensif ini. Hasilnya, dibandingkan tahun 2004 DKI hanya menduduki peringkat 4 dengan 5 medali emas, menjadi peringkat 1 di tahun 2005 dengan 33 medali emas. Fantastis! Jonathan Mailoa, sang absolute winner Olimpiade Fisika Internasional dan Pangus, sang The Best Experiment Olimpiade Fisika Asia juga merupakan hasil dari pembinaan intensif ini.
Dinas Pendidikan Papua, Bp. James Modouw senantiasa mendengungkan Papua tidak boleh kalah dengan daerah lain. Papua harus bisa juara di tingkat internasional. Semua ini ditargetkan sejak tahun 2003. Walaupun penuh tantangan di awal, namun Bp. James Modouw maju dan maju terus. Mestakung terjadi! Anak-anak cerdas Papua bermunculan. Hasilnya, Septinus George Saa menjadi juara The First Step to Nobel Prize in Physics 2004, Anike Bowaire menjadi juara The First Step to Nobel Prize in Physics 2005, dan Surya Bonay menjadi juara The First Step to Nobel Prize in Chemistry 2006. Salah satu siswa berbakatnya, Andrey Awoitauw, berhasil meraih medali emas matematika OSN, mengalahkan juara dunia matematika, Ivan Kristanto, dari Jakarta. Luar biasa kalau kita mau melangkah!!!
Dinas Pendidikan Jawa Tengah menargetkan tahun 2006 menjadi juara OSN. Segala persiapan dilakukan, mereka belajar dari DKI. Mestakung terjadi. Guru, siswa, pejabat-pejabat di dinas pendidikan termotivasi untuk mencapai target ini. Mereka bekerja keras luar biasa. Hasilnya, Jawa Tengah berhasil menjadi juara OSN 2006 dengan 19 medali emas. Padahal tahun 2005 mereka hanya peringkat 4. Luar biasa!!!
Mao Ze Dong di tahun 1934 menetapkan sasaran untuk melakukan long march sepanjang 9000 km dengan puluhan ribu anak buahnya. Beliau melangkah dan melangkah. Melintasi gunung, lembah, meniti jalan setapak dengan menggunakan obor di waktu malam. Serangan tentara Chiang Kai Sek penyakit, hujan, badai pasir, badai angin, dan berbagai rintangan harus dihadapi. Namun, dengan tekad teguh, akhirnya setelah setahun sekitar 8000 orang tiba dengan selamat di akhir perjalanan yang sangat fantastis dan tampak tidak mungkin ini.
Tahun 1984 saat saya masih mahasiswa jurusan Fisika di FMIPA UI, saya merasa terpanggil untuk mengembangkan pendidikan fisika yang asyik, mudah, dan menyenangkan di Indonesia. Namun, saya merasa ilmu yang saya peroleh dari S1 ini sangat kurang. Saya berkeinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Sayang, waktu itu saya tidak ada biaya sama sekali. Orang tua saya tidak akan mampu membiayai saya. Ketika baru di tingkat I dan tingkat II saja, saya hampir keluar dari UI jika tidak mendapat beasiswa supersemar, karena kami tidak mampu membayar uang kuliah.
Tekad ke luar negeri ini begitu kuat. Saya harus melangkah. Kemudian saya memberi les privat. Uang les privat ini saya kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membuat.... passport. Ya, passport. Banyak orang menganggap saya aneh, ke luar negeri belum ada kepastiannya, kok sudah membuat passport?“ Tetapi itulah.... kita harus berani melangkah. Ternyata tahun berikutnya, mestakung terjadi. Fisikawan Amerika Serikat datang ke Indonesia untuk meng-interview mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan salah satu mahasiswa Indonesia yang lulus interview adalah saya. Saya pun mendapat beasiswa di Department of Physics The College of William and Mary Virginia.
Rudy, mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat mempunyai resep sukses yang unik. Dia tidak pernah menunda pekerjaan. Ketika dia mendapat tugas dari dosennya selama seminggu atau sebulan, dia menyelesaikan tugas itu di hari pertama. Ini berbeda sekali dengan kebiasaan anak-anak muda yang sering menyelesaikan pekerjaan di menit-menit terakhir (the last minutes). Menurut Rudy, kalau dia bisa menyelesaikan tugas lebih awal, dia mempunyai waktu lebih untuk berpikir lebih banyak. Hidup menjadi berkurang stresnya. Kebiasaan ini dilakukan Rudy hingga dia bekerja. Dan hasilnya, Rudy selalu mendapat pujian dari atasannya atas segala pekerjaan yang begitu rapi. Sekarang dia sukses sebagai pengusaha. Kesuksesan Rudy didapatkan karena ia berani melangkah dan tidak pernah menunda-nunda.
Tahun 2005 DKI menjadi tuan rumah Olimpiade Sains Nasional (OSN). Dikmenti (Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi) dan Dikdas (Dinas Pendidikan dasar) provinsi DKI Jakarta menargetkan menjadi juara OSN 2005 ini. Mereka melangkah! Mereka menyeleksi anak-anak berbakat. Men-training-nya secara intensif, mulai Januari hingga September 2005. Mestakung terjadi! Semua bekerja bersama-sama untuk satu tujuan. Setiap saat, Kepala Dinas Pendidikan SMA, Bp. H. Margani dan Kepala Dinas Pendidikan SD/SLTP, Ibu Dr. Sylviana Murni memeriksa kemajuan dari training intensif ini. Hasilnya, dibandingkan tahun 2004 DKI hanya menduduki peringkat 4 dengan 5 medali emas, menjadi peringkat 1 di tahun 2005 dengan 33 medali emas. Fantastis! Jonathan Mailoa, sang absolute winner Olimpiade Fisika Internasional dan Pangus, sang The Best Experiment Olimpiade Fisika Asia juga merupakan hasil dari pembinaan intensif ini.
Dinas Pendidikan Papua, Bp. James Modouw senantiasa mendengungkan Papua tidak boleh kalah dengan daerah lain. Papua harus bisa juara di tingkat internasional. Semua ini ditargetkan sejak tahun 2003. Walaupun penuh tantangan di awal, namun Bp. James Modouw maju dan maju terus. Mestakung terjadi! Anak-anak cerdas Papua bermunculan. Hasilnya, Septinus George Saa menjadi juara The First Step to Nobel Prize in Physics 2004, Anike Bowaire menjadi juara The First Step to Nobel Prize in Physics 2005, dan Surya Bonay menjadi juara The First Step to Nobel Prize in Chemistry 2006. Salah satu siswa berbakatnya, Andrey Awoitauw, berhasil meraih medali emas matematika OSN, mengalahkan juara dunia matematika, Ivan Kristanto, dari Jakarta. Luar biasa kalau kita mau melangkah!!!
Dinas Pendidikan Jawa Tengah menargetkan tahun 2006 menjadi juara OSN. Segala persiapan dilakukan, mereka belajar dari DKI. Mestakung terjadi. Guru, siswa, pejabat-pejabat di dinas pendidikan termotivasi untuk mencapai target ini. Mereka bekerja keras luar biasa. Hasilnya, Jawa Tengah berhasil menjadi juara OSN 2006 dengan 19 medali emas. Padahal tahun 2005 mereka hanya peringkat 4. Luar biasa!!!
“Ketika kita melangkah, semesta (diri kita, lingkungan baik yang dekat maupun yang jauh) akan bereaksi dan mengatur diri untuk membantu kita keluar dari masalah kita)”
KRILANGKUN 3: TEKUN
Ketika kita melangkah, di tengah jalan kita akan melihat ombak dan merasakan terpaan angin. Mestakung akan bekerja ketika kita tidak gentar menghadapi ombak, angin, bahkan badai sekalipun. Ketekunan akan merangsang mestakung sehingga apa pun yang menjadi tujuan kita, pasti akan kita peroleh. Tekun sampai garis finish, jangan berhenti atau menyerah di tengah jalan. Lupakan hambatan di belakang kita, dan fokuskan pikiran dan langkah kita pada apa yang ada di depan kita. Maju dan maju terus.
Pada pertandingan piala Eropa 1999 antara Bayern Munich dan Manchester United terjadi peristiwa dramatis yang luar biasa. Selama 90 menit pertandingan berlangsung, skor saat itu adalah 1-0 untuk Bayern Munich. Namun, pemain-pemain MU terus menekan. Akhirnya, pada waktu tambahan (injury time), pemain MU, Sherringham dan Solksjaer, secara spektakular mencetak masing-masing satu gol dalam waktu hanya 2 menit 58 detik, membalikkan skor menjadi 2-1 untuk kemenangan MU.
Setelah itu, 35 detik kemudian wasit meniup panjang tanda pertandingan usai. Para suporter dan para pemain BM tertunduk lesu. Kemenangan yang sudah di tangan lenyap begitu saja dalam waktu 3 menit. Sebaliknya, para suporter dan pemain MU terlihat begitu meluap-luap kegembiraannya. Mereka telah menggunakan waktu sebaik-baiknya, tetap tekun berjuang keras sampai akhir pertandingan.
Pak Wahid Supriadi, Konsul Jenderal Indonesia di Melbourne, bercerita waktu kami berkunjung ke Melbourne. Pak Wahid merencanakan diadakannya Festival Indonesia di Melbourne 14-17 September 2006. Menurut Pak Wahid, kantor tidak bisa membiayai karena KJRI tidak lagi mendapat dana promosi dari pusat. Mereka harus memutar otak untuk mencari dana hampir Rp. 670 juta bagi penyelenggaraan Festival ini. Pak Wahid tidak gentar. KJRI mendirikan Lembaga Independen Festival Indonesia Inc. dengan modal nol!
Mereka mengirim surat ke ratusan perusahaan/institusi potensial baik di Australia maupun di Indonesia. Surat juga disebar ke seluruh Pemda, baik Indonesia maupun Australia, yang meminta dukungan agar Pemda dapat hadir dan membawa para pengusaha. Namun, responnya sangat menyedihkan. Apakah Pak Wahid menyerah? Tidak! Pak Wahid merasa bahwa dia sudah sampai pada titik point of no return. Dalam kondisi kritis seperti inilah terjadi mestakung. Pak Wahid membangkitkan semangat para penyelenggara, menyusun strategi, menghubungi semua kontak baik individu maupun lembaga-lembaga swasta dan pemerintah yang masuk dalam mailing list KJRI, dan menjual program-program FI.
Tahu apa yang terjadi? Terjadilah Mestakung di mana-mana. Mahasiswa-mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Australia menyingsingkan lengan bajunya. Mereka bekerja bersama-sama, mengatur acara, mencari dana, mengundang orang-orang terkenal dari Indonesia untuk acara seminar, mengundang para penari untuk menunjukkan budaya Indonesia, dan sebagainya. Beberapa Pemda mulai menunjukkan komitmennya, para sponsor pelan-pelan mulai menghubungi panitia, dan juga kalangan pengusaha mulai mendaftarkan diri untuk ikut konferensi walaupun harus membayar. Bahkan dalam minggu-minggu terakhir beberapa sponsor utama datang dan menyatakan komitmennya untuk membantu festival tersebut.
Ribuan orang datang ke Federal Court di Melbourne untuk menyaksikan Festival yang luar biasa ini. Selama dua hari festival budaya, makanan, dan perdagangan dihadiri sekitar 67 ribu orang, sementara business conference dihadiri sekitar 150 pengusaha, pejabat Pemda baik dari Indonesia maupun Australia. Luar biasa! Selesai acara, pemerintah kota Melbourne memberikan pujian dan meminta agar acara ini dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun di Melbourne. Pemerintah Melbourne bahkan berjanji akan mendukung termasuk pendanaannya. Luar biasa! Suatu karya yang indah terjadi kalau kita tekun mengerjakan apa yang sudah ditargetkan.
Yang terakhir, “the last but not the least”, dalam melangkah dan tekun berjuang, yang harus juga diperhatikan adalah faktor spiritual (saya namakan ini faktor plus, “+”). Spiritual atau iman yang kuat akan memberi kekuatan ekstra ketika kita berada pada kondisi kritis. Kepercayaan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa akan membantu kita lewat mestakung akan semakin mengokohkan kita dalam melangkah hingga ke garis akhir kemenangan.
Pada pertandingan piala Eropa 1999 antara Bayern Munich dan Manchester United terjadi peristiwa dramatis yang luar biasa. Selama 90 menit pertandingan berlangsung, skor saat itu adalah 1-0 untuk Bayern Munich. Namun, pemain-pemain MU terus menekan. Akhirnya, pada waktu tambahan (injury time), pemain MU, Sherringham dan Solksjaer, secara spektakular mencetak masing-masing satu gol dalam waktu hanya 2 menit 58 detik, membalikkan skor menjadi 2-1 untuk kemenangan MU.
Setelah itu, 35 detik kemudian wasit meniup panjang tanda pertandingan usai. Para suporter dan para pemain BM tertunduk lesu. Kemenangan yang sudah di tangan lenyap begitu saja dalam waktu 3 menit. Sebaliknya, para suporter dan pemain MU terlihat begitu meluap-luap kegembiraannya. Mereka telah menggunakan waktu sebaik-baiknya, tetap tekun berjuang keras sampai akhir pertandingan.
Pak Wahid Supriadi, Konsul Jenderal Indonesia di Melbourne, bercerita waktu kami berkunjung ke Melbourne. Pak Wahid merencanakan diadakannya Festival Indonesia di Melbourne 14-17 September 2006. Menurut Pak Wahid, kantor tidak bisa membiayai karena KJRI tidak lagi mendapat dana promosi dari pusat. Mereka harus memutar otak untuk mencari dana hampir Rp. 670 juta bagi penyelenggaraan Festival ini. Pak Wahid tidak gentar. KJRI mendirikan Lembaga Independen Festival Indonesia Inc. dengan modal nol!
Mereka mengirim surat ke ratusan perusahaan/institusi potensial baik di Australia maupun di Indonesia. Surat juga disebar ke seluruh Pemda, baik Indonesia maupun Australia, yang meminta dukungan agar Pemda dapat hadir dan membawa para pengusaha. Namun, responnya sangat menyedihkan. Apakah Pak Wahid menyerah? Tidak! Pak Wahid merasa bahwa dia sudah sampai pada titik point of no return. Dalam kondisi kritis seperti inilah terjadi mestakung. Pak Wahid membangkitkan semangat para penyelenggara, menyusun strategi, menghubungi semua kontak baik individu maupun lembaga-lembaga swasta dan pemerintah yang masuk dalam mailing list KJRI, dan menjual program-program FI.
Tahu apa yang terjadi? Terjadilah Mestakung di mana-mana. Mahasiswa-mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Australia menyingsingkan lengan bajunya. Mereka bekerja bersama-sama, mengatur acara, mencari dana, mengundang orang-orang terkenal dari Indonesia untuk acara seminar, mengundang para penari untuk menunjukkan budaya Indonesia, dan sebagainya. Beberapa Pemda mulai menunjukkan komitmennya, para sponsor pelan-pelan mulai menghubungi panitia, dan juga kalangan pengusaha mulai mendaftarkan diri untuk ikut konferensi walaupun harus membayar. Bahkan dalam minggu-minggu terakhir beberapa sponsor utama datang dan menyatakan komitmennya untuk membantu festival tersebut.
Ribuan orang datang ke Federal Court di Melbourne untuk menyaksikan Festival yang luar biasa ini. Selama dua hari festival budaya, makanan, dan perdagangan dihadiri sekitar 67 ribu orang, sementara business conference dihadiri sekitar 150 pengusaha, pejabat Pemda baik dari Indonesia maupun Australia. Luar biasa! Selesai acara, pemerintah kota Melbourne memberikan pujian dan meminta agar acara ini dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun di Melbourne. Pemerintah Melbourne bahkan berjanji akan mendukung termasuk pendanaannya. Luar biasa! Suatu karya yang indah terjadi kalau kita tekun mengerjakan apa yang sudah ditargetkan.
Yang terakhir, “the last but not the least”, dalam melangkah dan tekun berjuang, yang harus juga diperhatikan adalah faktor spiritual (saya namakan ini faktor plus, “+”). Spiritual atau iman yang kuat akan memberi kekuatan ekstra ketika kita berada pada kondisi kritis. Kepercayaan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa akan membantu kita lewat mestakung akan semakin mengokohkan kita dalam melangkah hingga ke garis akhir kemenangan.
“Doa merupakan kekuatan mestakung”
www.mestakung.co.id atau www.mestakung.com
Monday, December 14, 2009
Suatu Perkenalan
Hari ini begitu indah
Embun pagi menetes
di permukaan hijaunya daun
Kesalahan kecil yang kau perbuat
membuatku bertanya
dan akhirnya aku bisa mengenal dirimu
Sekian lama telah kunanti
Adanya perkenalan itu
Yang berhiaskan genggaman erat tanganmu
Serta manisnya senyum di wajahmu
Sahabat,
Aku tak sanggup memaksakan diri lagi
Aku tiada mengingini diriku ditinggalkan
dan merasakan kepedihan di hati
tuk yang ke sekian kali
Terimalah aku
Sebagai seorang sahabat
Apa adanya, sebagaimana aku ada
Jakarta, 6 Desember 2009
Embun pagi menetes
di permukaan hijaunya daun
Kesalahan kecil yang kau perbuat
membuatku bertanya
dan akhirnya aku bisa mengenal dirimu
Sekian lama telah kunanti
Adanya perkenalan itu
Yang berhiaskan genggaman erat tanganmu
Serta manisnya senyum di wajahmu
Sahabat,
Aku tak sanggup memaksakan diri lagi
Aku tiada mengingini diriku ditinggalkan
dan merasakan kepedihan di hati
tuk yang ke sekian kali
Terimalah aku
Sebagai seorang sahabat
Apa adanya, sebagaimana aku ada
Jakarta, 6 Desember 2009
Friday, December 11, 2009
Infini
Inilah Senin pertamaku benar-benar hidup sebagai pensiunan. Memang resmi bulan lalu aku gantung dasi, tetapi biasanya masih ada telepon berulang kali menanyakan ini-itu dari para mantan bawahan, atasan, dan penggantiku. Hari ini mereka sudah berhenti menghubungi. Ganjil rasanya; empat puluh tahun lebih, awal minggu selalu jadi hari tersibuk. Kukira memang sekarang masanya semua sungguh berlalu. Diam berebahan di pembaringan. Sendirian.
Di luar sudah gelap. Belum saatnya tidur, aku tidak mengantuk. Bangkit lagi sedikit limbung, entah berapa lama terpekur; bingung hendak melakukan apa. Akhirnya aku turun dari kasur, memakai sandal jepit, dan berjalan ke jendela. Pemutar audioku memainkan pita lagu lama, sekarang ini Smoke Gets In Your Eyes versi The Platters. Sudah mengayun suaranya, maklum kaset tua. Hampir selesai. Akan segera berganti ke tembang berikutnya.
”Gantilah dengan cakram padat, Yah. Jauh lebih jernih.” Anak pertamaku pernah komentar.
”Ini kubeli semasa muda dulu, Nak. Ada kenangan di dalamnya,” jawabku.
”Nanti akan kubelikan untuk Ayah. Sekaligus dengan pemutar digitalnya,” katanya sambil tertawa waktu itu, bertahun lalu.
Aku tersenyum. Ingin meneleponnya, tetapi entah nanti malah mengganggu atau tidak. Lagi pula jam begini setahuku biasanya dia belum pulang. Maklum, awal minggu.
”Ayah kok baru pulang?” tanyanya waktu seusia dengan cucuku—putranya sekarang.
”Tugas menumpuk, Nak,” jawabku waktu itu. Aku lupa saat itu tersenyum atau tidak. ”Kamu sendiri kenapa belum tidur?”
Kalau kucoba telepon ke rumah, yang akan menerima mungkin menantuku. Bisa saja bertanya apa kabar, apa kabar anaknya; tetapi sungguh aku bukan orang yang senang basa-basi. Selain menyapa, aku tak tahu apa lagi yang ingin kubicarakan dengan mereka. Dengan anakku? Apa yang hendak kubicarakan? Cerita tentang hari ini? Tentang musik yang sedang kudengar dan kenapa aku jadi ingat dia? Tiba-tiba saja aku jadi terdengar seperti ibunya. Maka, kubatalkan niatku.
”Coba cari kegiatan apalah begitu?” Itu komentar istriku dulu tiap melihat aku begini. ”Jangan diam-diam saja….”
Lalu, aku berlalu ke rak buku. Seperti sekarang.
Kini sudah tak ada yang baru di sana. Kubuang waktu dengan membacai judul di deretan punggung-punggungnya, baru sadar ternyata sudah lama sekali aku tidak punya bacaan. Surat kabar kian hari kian tipis, tidak ada lagi yang menarik untuk disimak—itu juga aku sudah tak berlangganan lagi; mulai bulan ini. Bisa saja kutarik, kubuka, dan kupaksa ulang membaca salah satunya, tetapi aku tak tega. Tak tega kepada diriku sendiri. Akhirnya kurelakan. Lemari ini sudah tak bisa jadi penyelamat lagi.
Kulirik pesawat televisi yang teronggok diam di muka ranjang. Sejak benda itu dibeli, aku tidak pernah menyentuhnya.
”Apa saja kegiatanmu sepanjang hari? Nonton?” Sering kusindir ”mantan” istriku tiap kutemukan dia duduk terpaku di depan sini saat aku pulang kantor. Aku masih ingat betul, ia tak pernah menjawab. Beberapa kali istriku bahkan tidak menoleh seakan tak mendengar suaraku sama sekali. Masih ingat waktu-waktu seperti itu aku sangat marah. Bisa saja kutarik dan kusakiti dia. Tetapi, aku tak pernah sampai hati. Pada tahun-tahun terakhir, benda inilah yang sudah menyelingkuhi dia. Mungkin harusnya kubesituakan saja si satu mata tersebut, biar tak teringat lagi hari-hari dulu. Tetapi, entah kenapa belum juga aku lakukan. Di lemari pakaian, baju-baju lawas istriku sudah bersih terdonasikan pada fakir miskin, tetapi benda satu ini masih saja kubiarkan. Hingga hari ini masih kutatap layar gelas itu dengan pandangan benci. Aku bersumpah tidak akan menyentuhnya. Tidak juga malam ini, seberapa pun sepi.
”Ke mana televisinya, Yah?” Mungkin aku takut anakku yang kedua akan bertanya seperti itu saat berkunjung lebaran tahun depan.
Semasa kecilnya dulu, ia paling senang menonton di sini.
”Kamu sudah kerjakan PR belum?” Sering kutegur dia tiap kutemukan dirinya saat aku pulang kerja.
”Sudah dong, Yah,” jawabnya santai. Kadang tanpa menoleh sama sekali.
Mungkin karena itu juga foto pernikahanku masih kutinggalkan tergantung di dinding kamar ini. Kutatap gambarnya yang bisu. Di situ kami terlihat sangat muda. Sangat bahagia. Puluhan tahun lalu.
Sekali lagi aku tersenyum sendiri. Kali ini timbul keinginan menelepon anak bungsuku. Tetapi, untuk kedua kali kuingatkan diriku: Apa yang hendak dibicarakan? Belum lagi jika ternyata pembantu mereka atau menantuku yang nanti mengangkat; biaya telepon tidak murah. Kuingatkan diriku, mulai bulan ini harus ekstra hemat; mulai bulan ini aku bergantung hidup hanya pada simpanan yang jumlahnya tak seberapa.
Kupandang meja tulis yang ada di samping pintu, kukerling lacinya yang teratas; di mana buku tabunganku tersimpan rapi. Sudah hampir setahun tak kukeluarkan dari sana. Terus terang saja: aku takut melihat angkanya.
Puluhan tahun berkarier mencari keuntungan perusahaan, setahun terakhir aku baru ingat tak pernah mengkalkulasi keuangan sendiri. Ini bukan lagi permainan yang sama dengan yang kumasuki dahulu.
Saat mulai berkarier, tak pernah kubayangkan harga-harga akan setinggi sekarang. Sewaktu anak-anak masih kecil, harga obat dan ongkos rumah sakit rasanya selalu bisa kutanggung. Jika uang tak cukup, aku masih dapat berutang pada kantor. Tetapi, entah kenapa, saat aku menua dan istriku sakit-sakitan, semua jadi tak terjangkau lagi. Tak pernah kuduga satu dekade lalu program pensiun tiba-tiba lenyap. Andai aku masuk sepuluh tahun lebih awal, mungkin semua akan berbeda. Satu hal yang tak bisa kubanggakan, aku pensiun dengan sisa utang biaya pengobatan istriku akhirnya dihapus. Ingin kujual rumah ini untuk melunasi, tetapi atasanku mencegah. Ia tahu aku tak punya apa-apa lagi. Hanya itu penghargaan terakhir yang bisa diberikan perusahaan atas pengabdianku.
Setahun terakhir, baru kupikirkan: siapa yang akan menanggung sisa hidupku nanti?
Hingga hari ini, aku belum pernah minta bantuan anak-anak. Semoga tidak akan perlu. Tetapi, bagaimana andai aku seperti ibu mereka dulu? Mengobati sesuatu yang ternyata tak bisa disembuhkan?
Aku tak pernah menyalahkan ibu mereka. Tak ada yang mau sakit. Aku juga tak pernah menyalahkan Tuhan. Manusia sakit bukan karena Tuhan.
Namun, apa yang harus kulakukan bila saja suatu hari nanti nasibku serupa? Siapa yang harus berutang untuk semua biayanya? Apakah anak-anakku juga harus merelakan simpanan mereka habis untuk melawan yang ternyata tak bisa dikalahkan?
Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa. Aku selalu berharap agar keluargaku dilimpahi kesejahteraan. Tetapi, bila ternyata mereka punya takdir berbeda, apa itu juga yang akan didoakan anak-anakku nanti? Berpuluh tahun mendatang?
Saat mereka mulai bekerja, tak pernah kubayangkan gaji pegawai akan seperti sekarang. Pada masaku dulu, semua cukup. Untuk makan kenyang tiga kali sehari, beli pakaian, sekolah anak, mengoleksi kaset musik dan buku favorit, kredit kendaraan, hingga akhirnya bisa membiayai rumah mungil ini. Ibu mereka cukup tinggal di rumah, tetapi kini anak-anakku dan pasangannya harus bersama cari nafkah hingga jauh malam; seperti halnya yang selama ini aku lakukan.
Dan bila ditanya oleh anak-anak mereka: kenapa baru pulang? Jawaban mereka pasti juga akan sama: ”Tugas menumpuk, Nak….”
Lantas, apa yang akan terjadi kepada putra-putriku puluhan tahun mendatang, pada hari Senin yang sama seperti hari ini untukku? Merenung seperti aku juga?
Lalu setelahnya tiba giliran anak-anak mereka? Cucu-cucuku?
Ini bukan jalan yang sama seperti yang kubayangkan akan mereka lalui saat mereka mulai bersekolah dulu.
Bagaimana bila puluhan tahun nanti harga dan biaya menjadi ratusan atau ribuan kali lipat dari sekarang? Dan bagaimana, jika pada masa depan, perusahaan tempat mereka bekerja sudah tak mau menghapus utang dan tagihan kesehatan saat pensiun nanti? Siapa yang akan menanggung itu semua?
Cucu-cucuku…?
Saat itu aku teringat kedua orangtuaku dulu.
Sampai di situ, aku tak kuat lagi. Kepalaku terasa sakit. Terhuyung aku kembali duduk di tepian kasur, memejamkan mata, mengurut kening yang seperti mau meletus. Untuk ketiga kalinya malam ini, timbul hasrat untuk menelepon anak-anakku. Ingin sekali kuutarakan semua yang terlintas di pikiranku barusan. Ingin sekali aku berteriak: selamatkan dirimu! Selamatkan anak-cucumu!
Tetapi, lantas aku jadi bertanya: siapa yang akan menyelamatkan aku pada sisa hidupku ini…?
Dan akhirnya, untuk kali ketiga pula, harus kuurungkan niatku….
Aku limbung. Kutarik napas-napas panjang, berusaha meredakan hantaman badai di dalam tengkorakku. Kulepaskan kedua sandal, dan berbaring menelentang, masih dengan mata terpejam erat.
Kembali terdengar alunan lembut suara Tony Williams: ”…Yet today my love has flown away…. I am without my love….”
Rupanya kaset C60-ku sudah berputar ke lagu semula. Apakah sudah selama itu…? Rasanya seperti baru sekejap saja…? Rupanya waktu telah berlalu tanpa terasa; hilang begitu saja entah ke mana….
”Coba cari kegiatan apalah begitu? Jangan diam-diam saja….” Terngiang kembali suara istriku.
Aku terdiam, rebah di pembaringan. Sendirian. Di luar semakin gelap, tetapi walau masih belum bisa membuka mata, aku belum mengantuk; belum saatnya tidur. Inilah hari pertamaku hidup benar-benar sebagai pensiunan. Apakah esok akan berbeda?
Lupa Password Windows XP?
Ada kalanya kita lupa password yang pernah kita pasang di komputer bersistem operasi Windows XP. Padahal tanpa password tersebut, kita tidak bisa melakukan apa-apa di komputer. Password ini memang ibarat kunci masuk pintu di rumah. Jadi apa yang harus dilakukan? Memformat seluruh harddisk? Jangan!
Jika dalam Windows XP Anda terdapat dua account user, lakukan langkah ini:
1. Login sebagai salah satu user yang password-nya Anda ingat.
4. Klik user account yang kelupaan password-nya, lalu klik Reset Password.
5. Ketikkan password baru Anda di bagian New password dan di baris Confirm new password, lalu klik OK.
Cara di atas akan berhasil kalau di komputer Anda ada dua atau lebih account user. Namun bagaimana jika Anda satu-satunya pengguna PC tersebut, alias hanya ada satu account user di Windows XP? Tetap tidak masalah. Gunakan saja bantuan freeware Austrumi. Download-lah freeware ini di alamat http://prdownloads.sourceforge.net/austrumi/austrumi-0.9.2.iso?download
Download-lah file image Austrumi sebesar 50MB, lalu bakar (burn) file ISO tersebut ke dalam sebuah CD kosong. Selanjutnya, gunakan CD tersebut untuk booting. Pada saat tampil menu boot, ketik boot: nt_pass lalu tekan Enter. Berikutnya, ikuti petunjuk yang terpampang pada layar. Selamat mencoba!
Jika dalam Windows XP Anda terdapat dua account user, lakukan langkah ini:
1. Login sebagai salah satu user yang password-nya Anda ingat.
2. Klik Start, lalu Run.
3. Dalam kotak Open ketik control userpasswords2, lalu klik OK. 4. Klik user account yang kelupaan password-nya, lalu klik Reset Password.
5. Ketikkan password baru Anda di bagian New password dan di baris Confirm new password, lalu klik OK.
Cara di atas akan berhasil kalau di komputer Anda ada dua atau lebih account user. Namun bagaimana jika Anda satu-satunya pengguna PC tersebut, alias hanya ada satu account user di Windows XP? Tetap tidak masalah. Gunakan saja bantuan freeware Austrumi. Download-lah freeware ini di alamat http://prdownloads.sourceforge.net/austrumi/austrumi-0.9.2.iso?download
(pilih salah satu alamat yang tersedia).
(sumber: InfoKomputer)
Tuesday, December 08, 2009
Mengenal Cara Belajar Individu
Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. Di negara-negara maju sistem pendidikan bahkan dibuat sedemikian rupa sehingga individu dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.
Di Indonesia seringkali kita mendengar keluhan dari orangtua yang merasa sudah melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya menjadi "pintar". Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah terbaik. Selain itu anak diikutkan dalam berbagai kursus maupun les privat yang terkadang menyita habis waktu yang seharusnya bisa dipergunakan anak atau remaja untuk bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian usaha-usaha tersebut seringkali tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang justru menimbulkan masalah bagi anak dan remaja.
Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung pintar? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh sang anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam pendidikan yang dijalaninya termasuk kursus atau les privat. Cara belajar yang dimaksudkan disini adalah kombinasi dari bagaimana individu menyerap, lalu mengatur dan mengelola informasi.
Otak Sebagai Pusat Belajar
Otak manusia adalah kumpulan massa protoplasma yang paling kompleks yang ada di alam semesta. Satu-satunya organ yang dapat mempelajari dirinya sendiri dan jika dirawat dengan baik dalam lingkungan yang menimbulkan rangsangan yang memadai, otak dapat berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun. Otak inilah yang menjadi pusat belajar sehingga harus dijaga dengan baik sampai seumur hidup agar terhindar dari kerusakan.
Menurut MacLean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain/three in one brain (dalam DePorter & Hernacki, 2001). Bagian pertama adalah batang otak, bagian kedua sistem limbik dan yang ketiga adalah neokorteks.
Batang otak memiliki kesamaan struktur dengan otak reptil, bagian otak ini bertanggungjawab atas fungsi-fungsi motorik-sensorik-pengetahuan fisik yang berasal dari panca indra. Perilaku yang dikembangkan bagian ini adalah perilaku untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies.
Disekeliling batang otak terdapat sistem limbik yang sangat kompleks dan luas. Sistem ini berada di bagian tengah otak manusia. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif yaitu menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. Selain itu sistem ini mengatur bioritme tubuh seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, jantung, gairah seksual, temperatur, kimia tubuh, metabolisme dan sistem kekebalan. Sistem limbik adalah panel kontrol dalam penggunaan informasi dari indra penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh, perabaan, penciuman sebagai input yang kemudian informasi ini disampaikan ke pemikir dalam otak yaitu neokorteks.
Neokorteks terbungkus di sekitar sisi sistem limbik, yang merupkan 80% dari seluruh materi otak. Bagian ini merupakan tempat bersemayamnya pusat kecerdasan manusia. Bagian inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan sensasi tubuh manusia. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir intelektual, pembuatan keputusan, perilaku normal, bahasa, kendali motorik sadar, dan gagasan non verbal. Dalam neokorteks ini pula kecerdasan yang lebih tinggi berada, diantaranya adalah : kecerdasan linguistik, matematika, spasial/visual, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intrapersonal dan intuisi.
Karakteristik Cara Belajar
Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik cara belajar yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi "pintar" sehingga kursus-kursus atau pun les private secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.
Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut:
1. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual
Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
- rapi dan teratur
- berbicara dengan cepat
- mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik
- teliti dan rinci
- mementingkan penampilan
- lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar
- mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual
- memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik
- biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar
- sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis)
- merupakan pembaca yang cepat dan tekun
- lebih suka membaca daripada dibacakan
- dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan.
- jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara
- lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain
- sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat "ya" atau "tidak'
- lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah
- lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik
- seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata
2. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial
Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
- sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja
- mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik
- lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca
- jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras
- dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara
- mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita
- berbicara dalam irama yang terpola dengan baik
- berbicara dengan sangat fasih
- lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya
- belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat
- senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar
- mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi
- lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya
- lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik
3. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik
Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
- berbicara dengan perlahan
- menanggapi perhatian fisik
- menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka
- berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain
- banyak gerak fisik
- memiliki perkembangan otot yang baik
- belajar melalui praktek langsung atau manipulasi
- menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung
- menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca
- banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal)
- tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama
- sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut
- menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
- pada umumnya tulisannya jelek
- menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)
- ingin melakukan segala sesuatu
Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai. Bagi para remaja yang mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk mulai merenungkan dan mengingat-ingat kembali apa karakteristik belajar anda yang paling efektif. Setelah itu cobalah untuk membuat rencana atau persiapan yang merupakan kiat belajar anda sehingga dapat mendukung agar kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan memanfaat berbagai media pendidikan seperti tape recorder, video, gambar, dll. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.
Kategori Pendidikan
Oleh : Zainun Mutadin, SPsi. MSi.
Jakarta, 26 September 2002
(e-psikologi.com)
Subscribe to:
Posts (Atom)
